Judul tulisan ini jadi panjang karena merupakan dua rangkaian yang berbeda, berasal dari istilah yang saya tangkap dilayar televisi dan mencoba merangkai menjadi judul. Dua istilah ini sangat menarik perhatian saya, karena mengikutinya dari berita-berita di koran, televisi, internet dan jejaring sosial yang ada. Sangat banyak diperbincangkan, dibahas dibeberapa wawancara dan diskusi. Saya hanya ini merangkai kejadian-kejadian di negara kita yang menurut saya terkadang ada benarnya, memprihatinkan, bahkan terasa aneh dan tak sepatutnya terjadi di Negara yang Berdaulat, Gemah Rimah Loh Jinawi.
Negeri Acak adul saya tangkap dari pernyataan salah satu tokoh nasional yang juga sebagai seorang Ketua Partai Politik yang besar di Negeri ini. Tokoh yang sangat populer dan pernah memimpin negeri ini. Saya mencermati uraian-uraian beliau atau pendapat berbagai tokoh lain tentang pendapat beliau dan saya banyak menemukan kebenaran tentang kondisi saat ini. Permasalah yang disampaikan mulai dari pengelolaan negara sampai hal-hal kebijakan pemerintah dengan contoh mulai dari kenaikan harga barang-barang sampai ke derita tabung gas bersubsidi.
Mempertahankan kedaulatan negara dengan pisau dapur saya tangkap dari perbincangan disalah satu televisi swasta yang antara lain nara sumbernya adalah pejabat pemerintah, mantan Panglima TNI, anggota DPR dan nara sumber lain yang berkaitan dengan masalah tapal batas negara. Dari gencarnya pemberitaan penangkapan petugas DKP oleh Polis Diraja Malaysia sampai ada istilah yang menurut saya sangat menyakitkan didengar sebagai anak bangsa antara lain Petugas DKP mempertahankan kedaulatan negara dengan pisau dapur dan Petugas Negara dibarter (tukar) dengan para pencuri ikan dari Malaysia. Lagi-lagi itu menurut saya banyak benarnya dan itulah fakta yang terjadi di negara kita.
Kaitan dengan dua kejadian diatas secara langsung memang dua hal yang berbeda. Namun sebagai anggota masyarakat Indonesia saat ini yang menggemari salah satu produk humor di televisi yang berjudul Overa Van Java saya mencoba menarik benang merah (lagi-lagi minjam istilah Overa Van Java). Apakah petugas DKP mempertahankan kedaulatan negara dengan pisau dapur, akibat pengelolaan negara yang acak adul atau memang karena negeri kita acak adul kita tidak bisa menempat sesuatu dengan tepat dan benar, sehingga semua instansi berjalan sendiri-sendiri tanpa koordinasi atau memang kita yang salah mengambil kebijakan tentang pengawasan sumberdaya perikanan.
Peristiwa ini terjadi menjelang negara kita merayakan HUT Kemerdekaan ke-65, sehingga sedikit atau banyak akan mempengaruhi alam berfikir kita tentang arti negara merdeka yang kita miliki. Statement Menteri di awal dan informasi yang kita dapat diawal kejadian membuat saya sebagai anak bangsa merasa marah besar. Bagaimana tidak, petugas negara ditangkap diperairan negara kita, akibat menangkap pencuri ikan dari negara tetangga kita dan mungkin semua orang yang masih memiliki jiwa kebangsaan akan berperasaan sama. Akan tetapi begitu saya mengikuti berbagai berita melalui berbagai media dan menghubungkan dengan istilah negeri acak adul, rasa marah saya sedikit berkurang dan mulai menyadari kelemahan-kelemahan pengelolaan negara kita.
Apa saja kelemahan pengelolaan negara kita yang tercinta ini ??? hal ini terpifikir saat asyik menonton OVJ sambil menunggu jeda iklan pindah channel TV, ada lagi berita yang menurut saya aneh tapi bayak kejadian yang mirip yaitu ormas pemuda melakukan sweeping terhadap warga yang tidak mengibarkan bendera merah putih, memaksa warga melakukan pengibaran bendera dan melakukan upacara. Hmmmm..............ANEH bukan ???? disaat banyak pengelola negara tidak perduli arti kedaulatan, ada gerombolan orang yang menurut saya tidak berhak melakukan tindakan penegakan hukum, melakukan tindakan pemaksaan kehendak terhadap orang lain dinegara merdeka ini (atas nama apapun,... bukankah hal ini memang biasa dan banyak terjadi di negeri acak adul ini ????
Nah....apa pula kaitannya dengan dua berita diatasnya ??? menurut saya ada sedikit kaitannya, yaitu apakah petugas DKP (pengawas perikanan) memiliki hak menangkap warga negara asing ??? apa saja kewenangan yang diberikan kepada petugas pengawas DKP ? Bagaimana kaitan petugas DPK dengan Angkatan Laut ? masih banyak yang belum saya ketahui, yang membuat otak saya berfikirnya tambah acak adul.
Bingung..............??? mungkin bukan saya saja yang bingung hidup di negeri ini, jutaan bahkan mungkin bisa puluhan juta rakyat kita lebih bingung lagi tiap hari disodorkan berbagai persoalan. Dari pada bingung acara seperti OVJ jadi laris manis dari pusing mikir kali ya...??? atau mungkinkah OVJ bisa jadi cerminan kondisi negeri kita tercinta ini ???? kesimpulannya : lagi-lagi OVJ....disana gunung, disini gunung, ditengah-tengah pulau jawa, wayangnya bingung, dalangnya bingung ......semoga kita, tidak jadi bangsa bingung ......Aminnnnnn !!!
Blog ASMAT SIAGIAN
Blog Asmat Siagian berisi tentang pribadi, hobby, keluarga, pandangan/pendapat juga tulisan-tulisan berbagai hal. Terutama tulisan-tulisan tentang adat istiadat Batak khususnya adat Sidippuan yang disajikan secara sederhana diharapkan dapat bermanfaat bagi kehidupan.
Selasa, 17 Agustus 2010
Rabu, 14 Juli 2010
Senin, 05 Juli 2010
PODA NA LIMA ( LIMA NASEHAT)
Dalam kehidupan sehari-hari di Tanah Batak ada salah satu pijakan moral yang dinasehatkan secara turun-temurun dari generasi ke generasi berikutnya di Tanah Batak. Disekolahpun ketika duduk dibangku sekolah dasar setiap sekolah di Tanah Batak sebagai salah satu ajaran muatan lokal, guru selalu mengajarkan dan mengingatkan kepada murid-muridnya arti pentingnya "Poda Na Lima"
Apa itu Poda Na Lima ? terjemahan bebasnya kurang lebih adalah "Nasehat yang Lima". Poda Na Lima isinya adalah : 1. Paias Rohamu( bersihkan hatimu)
2. Paias Pamatangmu ( bersihkan badan/ragamu )
3. Paias Pah(k)eanmu ( bersihkan pakaianmu )
4. Paias Bagasmu ( bersihkan rumahmu )
5. Paias Pakaranganmu ( bersihkan pekaranganmu )
Secara harfiah bisa ditafsirkan kalau kita harus selalu bersih jiwa, raga, pakaian yg melekat(membungkus) ditubuh, tempat tinggal (keluarga) dan pekarangan (lingkungan tempat kita tinggal).
Paias Rohamu (bersihkan hati/jiwamu) artinya tidak ada kotoran yang melekat dan bisa juga berarti kesucian jiwa dari berbagai sifat dengki (gut-gut), iri dan angkuh/sombong. Memelihara kebersihan dan kesucian jiwa adalah nasehat yang baik agar senantiasa kita selalu menjadikan hubungan Tuhan dengan manusia, hubungan antara manusia dengan manusia, maupun hubungan antara manusia dengan lingkungannya (alam) selalu terpelihara dengan baik secara rasional dan proporsional sesuai dengan kebutuhan ummat manusia masa kini maupun dikemudian hari.Sifat dengki, iri dan angkuh adalah sifat yang akan merusak kebersihan dan kesucian jiwa manusia. Sebaliknya ketulusan/keikhlasan, sportifitas dan kesederhanaan akan membawa manusia pada tingkat kemuliannya.
Paias Pamatangmu (bersihkan badanmu/ragamu) menasehatkan kita selalu memelihara kebersihan badan/raga kita baik secara fisik maupun kebersihan tingkah laku kita dari berbagai perbuatan yang tidak baik. Untuk pembentukan raga yang baik tentu manusia membutuhkan asupan yang baik dan pola hidup yang baik pula. Pamatang (badan/raga) ini bisa diartikan meliputi pemeliharaan yang meliputi seluruh badan/raga juga panca indra yang mendorong manusia untuk berbuat baik atau buruk. Dengan menjaga kebersihan badan/raga manusia akan dapat memelihara tingkah laku dan kesopanan serta dapat menghindari berbagai kerusakan akibat tindakan fisik manusia.
Paias Pahe(k)anmu (bersihkan pakaianmu) menasehatkan kita untuk selalu memelihara kebersihan pakaian baik itu secara fisik berupa pakaian penutup aurat maupun pakaian yang berarti simbol-simbol yang kita kenakan menyertai kehidupan kita seperti marga (keturunan), huta (kampung), adat istiadat dan sebagainya.
Paias Bagasmu (bersihkan rumahmu) menasehatkan kita senantiasa memelihara kebersihan rumah secara fisik maupun bagas (rumah) yang diartikan keluarga (keturunan) kita. Dalam adat batak bagas (rumah) pengertianya sangatlah luas, karena bagi orang batak bagas tidak hanya sekedar untuk tempat tinggal tapi bisa juga diartikan sappopparan (seketurunan/semarga/sedarah) yang senantiasa setiap orang mempunyai kewajiban menjaga dan memelihara harkat dan martabat keluarga. Bagas bisa juga diartikan keluarga.
Paias Pakaranganmu (bersihkan pekaranganmu) artinya kita harus senantiasa menjaga kebersihan lingkungan dimana tempat kita tinggal. Dalam arti sempit pekarangan bisa diartikan pekarangan rumah tapi bisa juga lingkungan dimana kita tinggal (huta). Biasanya dalam satu huta (kampung) terutama ditanah batak sebagian besar yang hidup disatu kampung masih memiliki kekerabatan yang dekat. Pada umumnya dalam satu kampung itu hubungan keluarga selalu ada yang sering disebut sebagai Dalihan Na Tolu yang merupakan tata cara hubungan kekerabatan dalam adat istiadat batak. Pakarangan bisa juga diartikan sebagai Dalihan Na Tolu yaitu Suhut (kahanggi), Anak Boru dohot Morana (hula-hula).
Sungguh sangat bijak apabila nasehat dari para oppu (kakek/nenek) dari orang batak ini dijalankan saat sekarang ini. Dimana sebagian manusia sudah tidak mementingkan kepatutan tingkah laku dan perbuatan dalam menjalankan kehidupan.
Apa itu Poda Na Lima ? terjemahan bebasnya kurang lebih adalah "Nasehat yang Lima". Poda Na Lima isinya adalah : 1. Paias Rohamu( bersihkan hatimu)
2. Paias Pamatangmu ( bersihkan badan/ragamu )
3. Paias Pah(k)eanmu ( bersihkan pakaianmu )
4. Paias Bagasmu ( bersihkan rumahmu )
5. Paias Pakaranganmu ( bersihkan pekaranganmu )
Secara harfiah bisa ditafsirkan kalau kita harus selalu bersih jiwa, raga, pakaian yg melekat(membungkus) ditubuh, tempat tinggal (keluarga) dan pekarangan (lingkungan tempat kita tinggal).
Paias Rohamu (bersihkan hati/jiwamu) artinya tidak ada kotoran yang melekat dan bisa juga berarti kesucian jiwa dari berbagai sifat dengki (gut-gut), iri dan angkuh/sombong. Memelihara kebersihan dan kesucian jiwa adalah nasehat yang baik agar senantiasa kita selalu menjadikan hubungan Tuhan dengan manusia, hubungan antara manusia dengan manusia, maupun hubungan antara manusia dengan lingkungannya (alam) selalu terpelihara dengan baik secara rasional dan proporsional sesuai dengan kebutuhan ummat manusia masa kini maupun dikemudian hari.Sifat dengki, iri dan angkuh adalah sifat yang akan merusak kebersihan dan kesucian jiwa manusia. Sebaliknya ketulusan/keikhlasan, sportifitas dan kesederhanaan akan membawa manusia pada tingkat kemuliannya.
Paias Pamatangmu (bersihkan badanmu/ragamu) menasehatkan kita selalu memelihara kebersihan badan/raga kita baik secara fisik maupun kebersihan tingkah laku kita dari berbagai perbuatan yang tidak baik. Untuk pembentukan raga yang baik tentu manusia membutuhkan asupan yang baik dan pola hidup yang baik pula. Pamatang (badan/raga) ini bisa diartikan meliputi pemeliharaan yang meliputi seluruh badan/raga juga panca indra yang mendorong manusia untuk berbuat baik atau buruk. Dengan menjaga kebersihan badan/raga manusia akan dapat memelihara tingkah laku dan kesopanan serta dapat menghindari berbagai kerusakan akibat tindakan fisik manusia.
Paias Pahe(k)anmu (bersihkan pakaianmu) menasehatkan kita untuk selalu memelihara kebersihan pakaian baik itu secara fisik berupa pakaian penutup aurat maupun pakaian yang berarti simbol-simbol yang kita kenakan menyertai kehidupan kita seperti marga (keturunan), huta (kampung), adat istiadat dan sebagainya.
Paias Bagasmu (bersihkan rumahmu) menasehatkan kita senantiasa memelihara kebersihan rumah secara fisik maupun bagas (rumah) yang diartikan keluarga (keturunan) kita. Dalam adat batak bagas (rumah) pengertianya sangatlah luas, karena bagi orang batak bagas tidak hanya sekedar untuk tempat tinggal tapi bisa juga diartikan sappopparan (seketurunan/semarga/sedarah) yang senantiasa setiap orang mempunyai kewajiban menjaga dan memelihara harkat dan martabat keluarga. Bagas bisa juga diartikan keluarga.
Paias Pakaranganmu (bersihkan pekaranganmu) artinya kita harus senantiasa menjaga kebersihan lingkungan dimana tempat kita tinggal. Dalam arti sempit pekarangan bisa diartikan pekarangan rumah tapi bisa juga lingkungan dimana kita tinggal (huta). Biasanya dalam satu huta (kampung) terutama ditanah batak sebagian besar yang hidup disatu kampung masih memiliki kekerabatan yang dekat. Pada umumnya dalam satu kampung itu hubungan keluarga selalu ada yang sering disebut sebagai Dalihan Na Tolu yang merupakan tata cara hubungan kekerabatan dalam adat istiadat batak. Pakarangan bisa juga diartikan sebagai Dalihan Na Tolu yaitu Suhut (kahanggi), Anak Boru dohot Morana (hula-hula).
Sungguh sangat bijak apabila nasehat dari para oppu (kakek/nenek) dari orang batak ini dijalankan saat sekarang ini. Dimana sebagian manusia sudah tidak mementingkan kepatutan tingkah laku dan perbuatan dalam menjalankan kehidupan.
Rabu, 30 Juni 2010
Rabu, 16 Juni 2010
Senin, 07 Juni 2010
Selasa, 01 Juni 2010
Senin, 31 Mei 2010
DALIHAN NA TOLU
Dalihan Na Tolu kalau diterjemahkan secara bebas kedalam bahasa Indonesia kurang lebih artinya Tungku Api (tempat memasak) yang Tiga. Pada jaman dahulu atau mungkin saat sekarang di perkampungan masih banyak ditemui tungku api yang terbuat dari batu atau yang lainnya yang dipergunakan sehari-hari untuk memasak menggunakan kayu bakar. Pada saat ini mungkin sudah lebih banyak yang menggunakan kompor minyak tanah bahkan kompor gas sebagai alat memasak.
Dalam tradisi Adat Batak Filosofi Dalihan Na Tolu ini sangat penting, bahkan selalu diajarkan secara turun temurun. Dalam tradisi Batak Dalihan Na Tolu dimaksudkan hubungan kekeluargaan yang berlaku bagi semua keluarga Batak yang berarti Suhut (Kahanggi), Anak Boru dohot Morana.
Suhut (kahanggi) adalah pemilik / perawis keluarga dari suatu keluarga sedarah/semarga yang memiliki tanggung jawab terhadap kelangsungan hidup suatu keluarga. Yang juga berarti penanggung jawab kebutuhan sebuah keluarga. Dalam tradisi keluarga batak, saudara sedarah (semarga) biasanya bekerja sama atau bergotong royong menafkahi dan memenuhi semua kebutuhan keluarga.
Anak Boru adalah anak perempuan sedarah (semarga) disebut juga sebagai Iboto yang menikah dengan marga lain atau suku lainnya. Anak boru ini sering juga sebagai "Si Tamba Na Hurang, Sihorus Na Lobi" yang berarti penambah kekurangan dan mencukupkan kelebihan. Dapat juga diartikan anak boru ini yang bertanggung jawab terhadap pengaturan, pendistribusian segala keperluan keluarga, hal ini akan sangat terlihat didalam pesta adat bahwa anak borulah yang bertanggung jawab dalam memasak, menyajikan (mangoloi) dan mencuci piring (membenahi semua peralatan).
Mora adalah keluarga laki-laki dari "Isteri Suhut" yang dalam adat batak sering juga disebut hula-hula merupakan pihak yang senantiasa harus dihormati dan dijunjung tinggi karena telah memberikan isteri sebagai ibu bagi pewaris keturunan (marga) kepada suhut. Penghormatan terhadap mora (hula-hula) sesuai juga dengan kedudukan didalam keluarga mora yaitu sebagai anak boru.
Hubungan Suhut (kahanggi) dan anak boru sangat dekat saling menyayangi, saling menghormati dan saling membantu dan melindungi karena anak boru (Iboto) merupakan saudara sedarah yang menikah dengan keluarga (marga) lain dan membentuk keluarga baru dan sebagai ibu pewaris bagi marga suaminya.
Kedudukan dan tanggung jawab masing-masing sangat baik dan sangat jelas sehingga apabila dikaitkan dengan Dalihan Na Tolu akan terlihat keharmonisan hubungan setiap keluarga. Dasar dari keharmonisan itu adalah persamaan derajad kemanusiaan, saling membantu dan saling menyayangi sesama. Dalihan na tolu itu akan ada apabila didukung tiga unsur kesamaan dan keselarasan sehingga dapat dipergunakan untuk membentuk keluarga yang kokoh.
Dalam adat Batak yang memiliki tanggung jawab dalam adat yaitu orang yang sudah menikah (dipatobang adat) dan yang belum menikah sering kali disebut sebagai Naposo dan Nauli Bulung didalam pesta adat Naposo dan Nauli Bulung ini sifatnya hanya membantu kelancaran sebuah pesta adat.
Dalihan Na Tolu apabila diurai makna dan filosofinya akan sangat luas, uraian ini hanya sebagian kecil namun apabila prinsip dasar Dalihan Na tolu ini dipegang dan dijalankan setiap keluarga Batak akan tercipta keluarga yang kokoh, saling menopang dan menciptakan generasi penerus yang kokoh dan berkarakter baik.....semoga, Amin !
Dalam tradisi Adat Batak Filosofi Dalihan Na Tolu ini sangat penting, bahkan selalu diajarkan secara turun temurun. Dalam tradisi Batak Dalihan Na Tolu dimaksudkan hubungan kekeluargaan yang berlaku bagi semua keluarga Batak yang berarti Suhut (Kahanggi), Anak Boru dohot Morana.
Suhut (kahanggi) adalah pemilik / perawis keluarga dari suatu keluarga sedarah/semarga yang memiliki tanggung jawab terhadap kelangsungan hidup suatu keluarga. Yang juga berarti penanggung jawab kebutuhan sebuah keluarga. Dalam tradisi keluarga batak, saudara sedarah (semarga) biasanya bekerja sama atau bergotong royong menafkahi dan memenuhi semua kebutuhan keluarga.
Anak Boru adalah anak perempuan sedarah (semarga) disebut juga sebagai Iboto yang menikah dengan marga lain atau suku lainnya. Anak boru ini sering juga sebagai "Si Tamba Na Hurang, Sihorus Na Lobi" yang berarti penambah kekurangan dan mencukupkan kelebihan. Dapat juga diartikan anak boru ini yang bertanggung jawab terhadap pengaturan, pendistribusian segala keperluan keluarga, hal ini akan sangat terlihat didalam pesta adat bahwa anak borulah yang bertanggung jawab dalam memasak, menyajikan (mangoloi) dan mencuci piring (membenahi semua peralatan).
Mora adalah keluarga laki-laki dari "Isteri Suhut" yang dalam adat batak sering juga disebut hula-hula merupakan pihak yang senantiasa harus dihormati dan dijunjung tinggi karena telah memberikan isteri sebagai ibu bagi pewaris keturunan (marga) kepada suhut. Penghormatan terhadap mora (hula-hula) sesuai juga dengan kedudukan didalam keluarga mora yaitu sebagai anak boru.
Hubungan Suhut (kahanggi) dan anak boru sangat dekat saling menyayangi, saling menghormati dan saling membantu dan melindungi karena anak boru (Iboto) merupakan saudara sedarah yang menikah dengan keluarga (marga) lain dan membentuk keluarga baru dan sebagai ibu pewaris bagi marga suaminya.
Kedudukan dan tanggung jawab masing-masing sangat baik dan sangat jelas sehingga apabila dikaitkan dengan Dalihan Na Tolu akan terlihat keharmonisan hubungan setiap keluarga. Dasar dari keharmonisan itu adalah persamaan derajad kemanusiaan, saling membantu dan saling menyayangi sesama. Dalihan na tolu itu akan ada apabila didukung tiga unsur kesamaan dan keselarasan sehingga dapat dipergunakan untuk membentuk keluarga yang kokoh.
Dalam adat Batak yang memiliki tanggung jawab dalam adat yaitu orang yang sudah menikah (dipatobang adat) dan yang belum menikah sering kali disebut sebagai Naposo dan Nauli Bulung didalam pesta adat Naposo dan Nauli Bulung ini sifatnya hanya membantu kelancaran sebuah pesta adat.
Dalihan Na Tolu apabila diurai makna dan filosofinya akan sangat luas, uraian ini hanya sebagian kecil namun apabila prinsip dasar Dalihan Na tolu ini dipegang dan dijalankan setiap keluarga Batak akan tercipta keluarga yang kokoh, saling menopang dan menciptakan generasi penerus yang kokoh dan berkarakter baik.....semoga, Amin !
Rabu, 26 Mei 2010
Sidippuan Nauli
Kota Sidempuan dalam tutur kata penduduk menyebut "Sidippuan", hal ini sering terjadi dalam bahasa Batak dimana bahasa tulisan dengan bahasa tutur sangat berbeda. Mungkin hal ini karena kebiasaan atau mungkin bahasa tulis seringkali terpengaruh dengan bahasa Indonesia sebagai bahasa Nasional.
Sidippuan yang terletak di Provinsi Sumatera Utara seringkali disebut sebagai Akkola (Angkola) dan sebagian penduduk lebih suka disebut sebagai Batak Akkola (Angkola)yang merupakan bagian dari Suku Batak.
Suku Batak dibagi dalam beberapa sub Suku antara lain : Toba, Akkola, Mandailing, Karo, Dairi, Simalungun dan lain sebagainya. Setiap sub suku ini memiliki kekhususannya masing-masing yang membedakan satu dengan lainnya. Hal yang membedakan antara lain dari bahasa dan logat bahasa yang berbeda, pelaksanaan upacara adat, dll. Walaupun perbedaaan antara sub suku tersebut sering kali hanya dalam logat bahasa tutur.
Sidippuan atau masyarakat Sidippuan lebih condong memiliki bahasa tutur yang merupakan campuran antara bahasa batak toba, mandailing dan bahasa pesisir (sibolga)karena secara geografis Sidippuan berbatasan dengan daerah tersebut dan penduduknya campuran dari berbagai sub suku yang ada di Sumatera Utara.
Potensi Sidippuan sangat besar dibidang perekonomian, pertambangan, perkebunan, peternakan dan perikanan dan sektor-sektor lainnya seperti budaya dan pariwisata.
Pembangunan diberbagai sektor ini pun terus berjalan.
Banyak hal menarik tentang Sidippuan yang sering dijuluki sebagai Kota Salak yang dialiri sungai Aek Batang Ayumi, Aek Saguppal Bonang, Aek Rokkare dan Aek Sibottar ini. Sebagai yang mengaku halak Sidippuan Nauli ....yang sudah lama meninggalkan kotaku tercinta .... saya masih memiliki berjuta kenangan yang indah dikota ini. Kenangan masa kecil dan masa remaja yang indah....
Sidippuan yang terletak di Provinsi Sumatera Utara seringkali disebut sebagai Akkola (Angkola) dan sebagian penduduk lebih suka disebut sebagai Batak Akkola (Angkola)yang merupakan bagian dari Suku Batak.
Suku Batak dibagi dalam beberapa sub Suku antara lain : Toba, Akkola, Mandailing, Karo, Dairi, Simalungun dan lain sebagainya. Setiap sub suku ini memiliki kekhususannya masing-masing yang membedakan satu dengan lainnya. Hal yang membedakan antara lain dari bahasa dan logat bahasa yang berbeda, pelaksanaan upacara adat, dll. Walaupun perbedaaan antara sub suku tersebut sering kali hanya dalam logat bahasa tutur.
Sidippuan atau masyarakat Sidippuan lebih condong memiliki bahasa tutur yang merupakan campuran antara bahasa batak toba, mandailing dan bahasa pesisir (sibolga)karena secara geografis Sidippuan berbatasan dengan daerah tersebut dan penduduknya campuran dari berbagai sub suku yang ada di Sumatera Utara.
Potensi Sidippuan sangat besar dibidang perekonomian, pertambangan, perkebunan, peternakan dan perikanan dan sektor-sektor lainnya seperti budaya dan pariwisata.
Pembangunan diberbagai sektor ini pun terus berjalan.
Banyak hal menarik tentang Sidippuan yang sering dijuluki sebagai Kota Salak yang dialiri sungai Aek Batang Ayumi, Aek Saguppal Bonang, Aek Rokkare dan Aek Sibottar ini. Sebagai yang mengaku halak Sidippuan Nauli ....yang sudah lama meninggalkan kotaku tercinta .... saya masih memiliki berjuta kenangan yang indah dikota ini. Kenangan masa kecil dan masa remaja yang indah....
Minggu, 23 Mei 2010
MARGAKU
Asmat "(Siagian)" ....itu yang tertulis di semua dokumen, mulai dari lahir mungkin nanti sampai ajal. Siagian marga yang didapat dari orang tua, kakek dan seterusnya. Asal usulnya ada dalam tarombo orang batak, walaupun sampai saat itu belum pernah kulihat bentuk tarombo margaku itu.
Memang orang tua, nenek pernah sekilas bercerita tentang asal usul margaku waktu masih kecil tapi saat ini ingatan tentang marga hanya sepotong-sepotong. Setelah memiliki keturunan keinginan untuk menceritakan ke anak-anak (bahkan cucu nantinya) mulai muncul dan keinginan itu semakin besar seiring dengan perkembangan anak-anak.
Apa buktinya kita sebagai orang Batak ? apakah hanya sebatas marga ? tentu menurut pemikikanku hal itu tidak cukup. Batak itu sebagai salah Satu Suku Bangsa yang besar di Indonesia bahkan mungkin di Dunia memerlukan pengetahuan yang memadai tentang Batak yang meliputi aspek Silsilah (asal-usul), Adat Istiadat, Keberagaman marga dan hubungan antar marga dan perkembangan keturunan marga itu sendiri. Dan mungkin masih banyak lagi yang harus diketahui dan dipelajari lebih dalam agar sebagai generasi penerus orang tua kita juga bisa mewariskannya ke anak dan cucu kita kelak.
Di-era Globalisasi informasi saat itu, hal kehilangan informasi seharusnya tidak boleh terjadi, sedikit demi sedikit pengetahuan tentang "MARGA" dan "Batak" itu mulai mudah didapatkan.
Beragam perkumpulan (Parsadaan Halak Batak) mulai bermunculan, bahkan di dunia maya sudah banyak sekali perkumpulan. Segala informasi bisa dan mudah didapatkan, namun informasi yang akurat dari para pengetua adat masih sedikit sekali. Sudah saatnya para Generasi Muda "Batak" menggali semua peninggalan budaya kita dan membukukan semua hal tentang "Batak dan Marga" agar generasi yang akan datang dapat mengetahui akar budayanya.
Dengan mengetahui berbagai hal tentang "Marga"-nya, generasi batak selanjutnya akan menjadi generasi Batak yang memiliki karakter "Kebatakannya". Dengan segala kekurangan dan kelebihannya aliran darah "Batak" terus akan membentuk watak / karakter generasi batak yang kuat dan dapat bersaing di tingkat Nasional, Regional bahkan Internasional. ...........Semoga !!!!
Memang orang tua, nenek pernah sekilas bercerita tentang asal usul margaku waktu masih kecil tapi saat ini ingatan tentang marga hanya sepotong-sepotong. Setelah memiliki keturunan keinginan untuk menceritakan ke anak-anak (bahkan cucu nantinya) mulai muncul dan keinginan itu semakin besar seiring dengan perkembangan anak-anak.
Apa buktinya kita sebagai orang Batak ? apakah hanya sebatas marga ? tentu menurut pemikikanku hal itu tidak cukup. Batak itu sebagai salah Satu Suku Bangsa yang besar di Indonesia bahkan mungkin di Dunia memerlukan pengetahuan yang memadai tentang Batak yang meliputi aspek Silsilah (asal-usul), Adat Istiadat, Keberagaman marga dan hubungan antar marga dan perkembangan keturunan marga itu sendiri. Dan mungkin masih banyak lagi yang harus diketahui dan dipelajari lebih dalam agar sebagai generasi penerus orang tua kita juga bisa mewariskannya ke anak dan cucu kita kelak.
Di-era Globalisasi informasi saat itu, hal kehilangan informasi seharusnya tidak boleh terjadi, sedikit demi sedikit pengetahuan tentang "MARGA" dan "Batak" itu mulai mudah didapatkan.
Beragam perkumpulan (Parsadaan Halak Batak) mulai bermunculan, bahkan di dunia maya sudah banyak sekali perkumpulan. Segala informasi bisa dan mudah didapatkan, namun informasi yang akurat dari para pengetua adat masih sedikit sekali. Sudah saatnya para Generasi Muda "Batak" menggali semua peninggalan budaya kita dan membukukan semua hal tentang "Batak dan Marga" agar generasi yang akan datang dapat mengetahui akar budayanya.
Dengan mengetahui berbagai hal tentang "Marga"-nya, generasi batak selanjutnya akan menjadi generasi Batak yang memiliki karakter "Kebatakannya". Dengan segala kekurangan dan kelebihannya aliran darah "Batak" terus akan membentuk watak / karakter generasi batak yang kuat dan dapat bersaing di tingkat Nasional, Regional bahkan Internasional. ...........Semoga !!!!
Selasa, 18 Mei 2010
SIBANGKUA

Desa sibangkua terletak di Kecamatan Padang Sidempuan Barat, denganjarak 12 km dari pusat kota Padang Sidempuan. Penghasilan utama penduduk sebagai perkebun salak disamping ada juga lahan sawah, perkebunan karet, kopi dll. Desa ini menjadi stategis karena menghubungkan dan jalan lintas Barat menuju Kota Sibolga, Tarutung sedangkan dari arah Sibolga merukan lintas ke kota Panyabunga, Kotanopan, Bukit Tinggi dan kearah Sipirok, Padang Lawas, Pekan Baru.
Letak desa di dataran tinggi menjadikan desa ini, memiliki iklim yg sejuk bahkan cenderung dingin.
Perintis adanya desa Sibangkua yg didominasi bermarga Siagian, menjadikan penduduk desa kebanyakan bermarga Siagian. Desa yang masih mempertahankan trasisi Batak Dalihan Na Tolu ( Kahanggi, Anak Boru dohot Mora ) sangat dijunjung tinggi. Termasuk upacara-upacara adat seperti Marhorja, Manortor sampai saat ini masih dipertahankan sesuai dengan adat dan tradisi yang telah turun temurun dilaksakan.
Perkembangan penduduk yang begitu pesat, atau akibat lain membuat sebagian warganya pindah atau merantau ke Desa Lain atau bahkan merantau ke berbagai penjuru Tanah Air bahkan ke Negara Lain. Halak Sibangkua yang ada di perantauan cukup besar jumlahnya, baik itu melanjutkan pendidikan ataupun pindah menetap.
Sebagai Tano Hatubuan Sibangkua sangatlah dirindukan warganya yang merantau. Dan tak mengherankan di tempat perantauanpun masyarakat dari Sibangkua senantiasa menjalin komunikasi, silaturrahmi dengan sesamanya dengan membentuk Perkumpulan Halak Sibangkua.
Kamis, 13 Mei 2010
Salak Sibakkua
Salak Sibakkua dipangan sada mangido dua.....ima najot-jot binege, hata tu salak sibakkua. Salak Sibakkua tarjamita do tu huta na lain. Salak sian Sibakkua adong rasa na khusus kandungan aek na bahat dungi rasona pe marragam-ragam do, adong na manis, asom bahkan sapot.
Pangalaman sian menek, hami namarsalak adong do sapeto cara mambaen salak sibangkua so umpade. Pengalaman sian amang Alm. Sutan Mara Siagian bope Abang Amir Hot Siagian / Amir Husein Siagian ima nadung mancubona di Sia Marina. Raso ni salak bisa do ummanis dungi umgodong-godang do asal dirawat umpade.
Adong do kekhususan sian salak sibakkua atau pe salak di sidippuan, ima adong warna na bottar, na rara atau pe campuran di nabottar dohot na rara.
Saleleng on, parkobun salak hurang do mangalingin pamaliaroan di kabon salak, ima namambaen salak sibakkua manjadi manurun kualitasnya. Padahal parkobunan salak sibakkua no namanopang ekonomi di huta bahkan bahat do halak sibakkua dadung marhasil pasikolaon anak bope boruna sian panghasilan ni salak sibakkua.
Cara papadehon mutu di salak :
1. Bibit na sian salak namanis boti godang-godang melalui Anakan (stek)
2. Peremajaan salak danung matobang harana inda produktif be
3. Manapui
4. Bambakkari
Pangalaman sian menek, hami namarsalak adong do sapeto cara mambaen salak sibangkua so umpade. Pengalaman sian amang Alm. Sutan Mara Siagian bope Abang Amir Hot Siagian / Amir Husein Siagian ima nadung mancubona di Sia Marina. Raso ni salak bisa do ummanis dungi umgodong-godang do asal dirawat umpade.
Adong do kekhususan sian salak sibakkua atau pe salak di sidippuan, ima adong warna na bottar, na rara atau pe campuran di nabottar dohot na rara.
Saleleng on, parkobun salak hurang do mangalingin pamaliaroan di kabon salak, ima namambaen salak sibakkua manjadi manurun kualitasnya. Padahal parkobunan salak sibakkua no namanopang ekonomi di huta bahkan bahat do halak sibakkua dadung marhasil pasikolaon anak bope boruna sian panghasilan ni salak sibakkua.
Cara papadehon mutu di salak :
1. Bibit na sian salak namanis boti godang-godang melalui Anakan (stek)
2. Peremajaan salak danung matobang harana inda produktif be
3. Manapui
4. Bambakkari
Rabu, 12 Mei 2010
Tano Hatubuan
Terlahir di Kota Padang Sidempuan, masa kecil hingga SMP dihabiskan di Padang Sidempuan, SLTA melanjutkan sekolah ke Bogor. Banyak adat istiadat, tarombo, silsilah kekeluargaan yang tidak diketahui.
Selanjutnya bekerja, berkeluarga dan memiliki anak tinggal di rantau, dan jarang sekali memiliki kesempatan untuk pulang kampung. Hidup di rantau serasa tidak lengkap tanpa adanya pengetahuan yang cukup tentang silsilah keluarga, adat istiadat untuk menceritakan ke anak-anakpun tidak bisa.
Keingintahuan itu semakin tinggi ketika berhubungan dengan saudara-saudara sesama perantau. Selama ini memang saya sudah banyak mengikuti parsaddaan halak kita, namun pengetahuan tentang adat istiadat, tarombu, partuturan sangat kurang diantara anggotanya.
Mungkin perlu bagi kita, terutama yang memiliki pengetahuan untuk membagikannya melalui berbagai tulisan atau mengadakan acara parsaadaan samarga, sekampung dlll
Selanjutnya bekerja, berkeluarga dan memiliki anak tinggal di rantau, dan jarang sekali memiliki kesempatan untuk pulang kampung. Hidup di rantau serasa tidak lengkap tanpa adanya pengetahuan yang cukup tentang silsilah keluarga, adat istiadat untuk menceritakan ke anak-anakpun tidak bisa.
Keingintahuan itu semakin tinggi ketika berhubungan dengan saudara-saudara sesama perantau. Selama ini memang saya sudah banyak mengikuti parsaddaan halak kita, namun pengetahuan tentang adat istiadat, tarombu, partuturan sangat kurang diantara anggotanya.
Mungkin perlu bagi kita, terutama yang memiliki pengetahuan untuk membagikannya melalui berbagai tulisan atau mengadakan acara parsaadaan samarga, sekampung dlll
Rabu, 24 Februari 2010
sidippuan
Halak sidippuan di ratto atau pe di tano hatubuan.............madung bahat parkumpulan atau pe sarana sosialisasi sesama halak kita. Mudah-mudahan halak kita semakin jaya.
Langganan:
Postingan (Atom)