Blog ASMAT SIAGIAN
Blog Asmat Siagian berisi tentang pribadi, hobby, keluarga, pandangan/pendapat juga tulisan-tulisan berbagai hal. Terutama tulisan-tulisan tentang adat istiadat Batak khususnya adat Sidippuan yang disajikan secara sederhana diharapkan dapat bermanfaat bagi kehidupan.
Minggu, 16 Desember 2012
Senin, 10 Desember 2012
Minggu, 09 Desember 2012
Berani Jujur Hebat....!!!!
Senin, 03 Desember 2012
Kamis, 22 November 2012
Selasa, 19 Juli 2011
Senin, 11 Juli 2011
Korupsi Berkelanjutan
Sejarah telah mencatat pertumbuhan korupsi sangat subur dan menggurita disemua lapisan kehidupan kita, selalu disandingkan dengan cita-cita pembangunan yang berkelanjutan. Mencari jalan damai antara pembangunan berkelanjutan (sustainable development) dengan korupsi berkelanjutan ( sustainable corruption ) yang terjadi mukinkah ?
Dua hal yang saling bertolak belakang yang seharusnya saling anti. Pembangunan berkelanjutan tidak akan tercapai jika disisi lain korupsi berkelanjutan juga jadi program dan cita-cita para pengambil keputusan negeri ini. Pilihan harusnya salah satunya akan tetapi jika keduanya menjadi pilihan lihatlah negeriku....carut marut, nggak jelas dan hanya berharap pada mukjijat keajaiban yang dapat menyulap negeri ini menjadikannya lebih baik untuk dijadikan warisan pada generasi selanjutnya atau tempat bernapas hingga ajal menjemput.
Bermuka dua dan munafik hanya itu yang terlihat dari wajah ibu pertiwiku, diantara berjuta cita-cita luhur terdapat pula berjuta kelakuan kotor dan jahat mengiringi niat pembangunan negeri ini.
Pilihannya ada ditangan senegap kita, apakah kita masih mempertahankan muka dua dan kemunafikan atau melupakan tentang pembangunan. Seandainya pembangunan berkelanjutan dan korupsi berkelanjutan tetap berjalan seiring sejalan seperti saat ini mungkin ini hanya menjadikan bangsa ini semakin lama sekarat, sengsara moral dan akhlag.
Ada yang bilang jangan lagi bicara tentang moral dan akhlag, jangan bicara keadilan, jangan bicara kemakmuran dan kesejahteraan karena semua itu sudah dibeli oleh para koruptor negeri ini. Merekalah (para koruptor) yang paling bermoral, berakhlag, yang adil, yang makmur dan sejahtera karena mereka pemilik semua itu dari bangsa ini. Pemilik yang dapat juga diartikan didapat dari hasil mencuri, merampok, penipu, berlaku curang, ha ha ha ha ha ..........benar-benar sampah !!!!!
Dua hal yang saling bertolak belakang yang seharusnya saling anti. Pembangunan berkelanjutan tidak akan tercapai jika disisi lain korupsi berkelanjutan juga jadi program dan cita-cita para pengambil keputusan negeri ini. Pilihan harusnya salah satunya akan tetapi jika keduanya menjadi pilihan lihatlah negeriku....carut marut, nggak jelas dan hanya berharap pada mukjijat keajaiban yang dapat menyulap negeri ini menjadikannya lebih baik untuk dijadikan warisan pada generasi selanjutnya atau tempat bernapas hingga ajal menjemput.
Bermuka dua dan munafik hanya itu yang terlihat dari wajah ibu pertiwiku, diantara berjuta cita-cita luhur terdapat pula berjuta kelakuan kotor dan jahat mengiringi niat pembangunan negeri ini.
Pilihannya ada ditangan senegap kita, apakah kita masih mempertahankan muka dua dan kemunafikan atau melupakan tentang pembangunan. Seandainya pembangunan berkelanjutan dan korupsi berkelanjutan tetap berjalan seiring sejalan seperti saat ini mungkin ini hanya menjadikan bangsa ini semakin lama sekarat, sengsara moral dan akhlag.
Ada yang bilang jangan lagi bicara tentang moral dan akhlag, jangan bicara keadilan, jangan bicara kemakmuran dan kesejahteraan karena semua itu sudah dibeli oleh para koruptor negeri ini. Merekalah (para koruptor) yang paling bermoral, berakhlag, yang adil, yang makmur dan sejahtera karena mereka pemilik semua itu dari bangsa ini. Pemilik yang dapat juga diartikan didapat dari hasil mencuri, merampok, penipu, berlaku curang, ha ha ha ha ha ..........benar-benar sampah !!!!!
Rabu, 08 Juni 2011
KORUPSI SEBAGAI SAMPAH KEHIDUPAN
KORUPSI SAMPAH KEHIDUPAN
OLEH ASMAT SIAGIAN
Negara ini selama bertahun-tahun tidak pernah lepas dari jeratan para pelaku korupsi yang nama bekennya para koruptor. Perilaku korupsi sama dengan gundukan segala jenis sampah yang bau, kotor dan menyebarkan virus penyakit. Korupsi yang telah menjalar hampir disemua bidang kehidupan dan tidak terkendali menyebabkan gangguan dan penderitaan yang panjang bagi kelangsungan hidup berbangsa dan bernegara bagi masyarakat.
Indikasi penyebarannya jelas hampir merata, dampak yang ditimbulkanpun semakin lama semakin dirasakan antara lain perwujudan masyarakat adil, makmur/sejahtera dan merata bagi rakyat semakin jauh dari kenyataan. Dampak sehari-hari terlihat banyaknya sarana dan prasarana yang dibutuhkan masyarakat tidak dapat dipenuhi, fungsi-fungsi pelayanan pemerintahan yang tidak optimal, sulitnya sebagian besar masyarakat memenuhi kebutuhan hidupnya, menimbulkan rasa frustasi dan putus asa masyarakat akan upaya-upaya bangsa ini menyingkirkan sampah kehidupan (para koruptor) yang menghambat kemajuan Bangsa dan Negara.
Berbagai aturan dan undang-undang silih berganti dibuat, lembaga pembrantasan korupsi dibentuk, lembaga masyarakat (NGO) yang anti korupsi bermunculan namun perilaku korupsi bukannya semakin surut akan tetapi semakin hari semakin menjadi, hal ini terlihat dari berita berbagai media setiap hari hanya disuguhi berita para koruptor sebagai berita sajian pokok masyarakat.
Melihat berita TV, membaca media massa, browsing internet hampir semua didominasi berita-berita korupsi. Apa yang salah ? sehingga begitu akutnya penyakit korupsi pada bangsa ini. Para koruptor dilindungi, dibela bahkan disanjung sebagian orang dan mereka merasa seolah-olah tidak berbuat salah.
Rasa marah, jengkel dan kesal setiap hari mengikuti, melihat dan mendengar berita para koruptor beken yang sudah terindikasi, terperiksa, terdakwa dan terpidana muncul diberbagai media. Begitu melihat penanganan kasus-kasus korupsi membuat muncul perasaan muak bahkan muntah melihat kondisi yang terjadi. Korupsi seolah-olah sudah menjadi menu favorit bangsa ini.
Berbagai aturan, artikel atau hasil studi tentang korupsi sudah cukup banyak juga di terbitkan media dan berbagai lembaga. Pengetahuan masyarakat tentang korupsi sudah semakin baik namun gerakan dan perlawanan terhadap korupsi belum muncul secara merata diberbagai lapisan masyarakat karena mungkin masyarakat juga sudah mulai tertular virus korupsi dan menjadi bagian dari perilaku masyarakat secara umum atau memang masyakat sudah terlalu sulit menjalankan hidupnya sehingga sudah tidak perduli lagi dengan Negara dan Bangsanya. Kalau hal ini terjadi kemungkinan kematian atau ajal sebuah Negara sudah sekarat.
Korupsi adalah sebuah perilaku, menurut ensiklopedia bebas Wikipedia berasal dari bahasa latin Corruptio dari kata kerja Currumpere yang bermakna busuk, rusak, menggoyahkan, memutarbalik, menyongok. Secara harfiah, korupsi adalah perilaku pejabat publik, baik politikus/politisi maupun pegawai negeri yang secara tidak wajar dan tidak legal memperkaya diri atau memperkaya mereka yang dekat dengannya, dengan menyalahgunakan kekuasaan public yang dipercayakan kepada mereka.
Melihat kesuburan perkembangan korupsi yang sudah sangat membahayakan kehidupan berbangsa dan bernegara, perlu kiranya melihat korupsi sesuai dengan makna asal katanya (busuk, rusak dll) sebagai sampah Negara dan sampah masyarakat yang dapat menimbulkan gangguan, penderitaan dan kematian bagi bangsa ini.
Menumbuhkan perlawanan terhadap korupsi tidak akan mudah, karena stadiumnya sudah membuat Negara ini sekarat bahkan sebagian masyarakat sudah sangat apatis akan upaya pembrantasannya. Mungkin ini sekedar alternative penanganan korupsi jika dilihat dari makna kata, penyebaran, dampak dan penanganannya disamakan dengan sampah. Sampah adalah merupakan material sisa yang tidak diinginkan setelah berakhirnya suatu proses.
Paradigma penangannyapun harus diubah total, koruptor bukan lagi sebagai objek hukum tapi diubah sebagai barang sisa yang harus dikelola menurut tata kelola sampah sehingga lebih mudah dipilah-pilah untuk mengurangi polusi lingkungan, perkembangan virus atau kuman yang dengan mudah menyebar tanpa terkendali. Ahli yang menangani para koruptor hendaknya bukan ahli hukum atau penegak hukum karena mereka telah terbukti tidak dapat melakukan tugasnya untuk membrantas korupsi. Untuk mengelola pembrantasan korupsi diserahkan saja pada ahli persampahan atau pemulung agar pola penangannya sesuai alur penanganan sampah.
Korupsi di Negara ini sudah merupakan onggokan berbagai jenis sampah menumpuk, membusuk, kotor dan bau menyengat yang sudah sangat membayakan kehidupan manusia lain selain para koruptor. Jenispun sangat beragam mulai dari sampah alam, sampah manusia (hasil pencernaan manusia), sampah rumahtangga, industri sampai limbah nuklir bercampur jadi satu berdampingan dengan kehidupan kita dan berserakan disetiap penjuru kemanapun kita melangkah. Agar tidak menimbulkan penyakit dan dapat berdampak pada kematian bangsa ini seluruh masyarakat harus bersama-sama membersihkannya.
Menempatkan para koruptor sebagai manusia yang tidak sepatutnya sangat wajar karena dampak dari perbuatan mereka sangat dahsyat merugikan kehidupan bangsa secara keseluruhan. Bahkan kehidupan ratusan juta rakyat lain dirugikan secara langsung akibat perbuatan para koruptor dan tidak seharusnya ada pembelaan terhadap mereka karena mereka hanya sampah bau, kotor dan penyebar berbagai penyakit mematikan.
Hukuman sosial dari masyarakat dengan cap (stempel) dan memperlakukan para koruptor sebagai sampah kehidupan mungkin lebih efektip menanggulangi dan melenyapkan para koruptor dari muka bumi ini.
OLEH ASMAT SIAGIAN
Negara ini selama bertahun-tahun tidak pernah lepas dari jeratan para pelaku korupsi yang nama bekennya para koruptor. Perilaku korupsi sama dengan gundukan segala jenis sampah yang bau, kotor dan menyebarkan virus penyakit. Korupsi yang telah menjalar hampir disemua bidang kehidupan dan tidak terkendali menyebabkan gangguan dan penderitaan yang panjang bagi kelangsungan hidup berbangsa dan bernegara bagi masyarakat.
Indikasi penyebarannya jelas hampir merata, dampak yang ditimbulkanpun semakin lama semakin dirasakan antara lain perwujudan masyarakat adil, makmur/sejahtera dan merata bagi rakyat semakin jauh dari kenyataan. Dampak sehari-hari terlihat banyaknya sarana dan prasarana yang dibutuhkan masyarakat tidak dapat dipenuhi, fungsi-fungsi pelayanan pemerintahan yang tidak optimal, sulitnya sebagian besar masyarakat memenuhi kebutuhan hidupnya, menimbulkan rasa frustasi dan putus asa masyarakat akan upaya-upaya bangsa ini menyingkirkan sampah kehidupan (para koruptor) yang menghambat kemajuan Bangsa dan Negara.
Berbagai aturan dan undang-undang silih berganti dibuat, lembaga pembrantasan korupsi dibentuk, lembaga masyarakat (NGO) yang anti korupsi bermunculan namun perilaku korupsi bukannya semakin surut akan tetapi semakin hari semakin menjadi, hal ini terlihat dari berita berbagai media setiap hari hanya disuguhi berita para koruptor sebagai berita sajian pokok masyarakat.
Melihat berita TV, membaca media massa, browsing internet hampir semua didominasi berita-berita korupsi. Apa yang salah ? sehingga begitu akutnya penyakit korupsi pada bangsa ini. Para koruptor dilindungi, dibela bahkan disanjung sebagian orang dan mereka merasa seolah-olah tidak berbuat salah.
Rasa marah, jengkel dan kesal setiap hari mengikuti, melihat dan mendengar berita para koruptor beken yang sudah terindikasi, terperiksa, terdakwa dan terpidana muncul diberbagai media. Begitu melihat penanganan kasus-kasus korupsi membuat muncul perasaan muak bahkan muntah melihat kondisi yang terjadi. Korupsi seolah-olah sudah menjadi menu favorit bangsa ini.
Berbagai aturan, artikel atau hasil studi tentang korupsi sudah cukup banyak juga di terbitkan media dan berbagai lembaga. Pengetahuan masyarakat tentang korupsi sudah semakin baik namun gerakan dan perlawanan terhadap korupsi belum muncul secara merata diberbagai lapisan masyarakat karena mungkin masyarakat juga sudah mulai tertular virus korupsi dan menjadi bagian dari perilaku masyarakat secara umum atau memang masyakat sudah terlalu sulit menjalankan hidupnya sehingga sudah tidak perduli lagi dengan Negara dan Bangsanya. Kalau hal ini terjadi kemungkinan kematian atau ajal sebuah Negara sudah sekarat.
Korupsi adalah sebuah perilaku, menurut ensiklopedia bebas Wikipedia berasal dari bahasa latin Corruptio dari kata kerja Currumpere yang bermakna busuk, rusak, menggoyahkan, memutarbalik, menyongok. Secara harfiah, korupsi adalah perilaku pejabat publik, baik politikus/politisi maupun pegawai negeri yang secara tidak wajar dan tidak legal memperkaya diri atau memperkaya mereka yang dekat dengannya, dengan menyalahgunakan kekuasaan public yang dipercayakan kepada mereka.
Melihat kesuburan perkembangan korupsi yang sudah sangat membahayakan kehidupan berbangsa dan bernegara, perlu kiranya melihat korupsi sesuai dengan makna asal katanya (busuk, rusak dll) sebagai sampah Negara dan sampah masyarakat yang dapat menimbulkan gangguan, penderitaan dan kematian bagi bangsa ini.
Menumbuhkan perlawanan terhadap korupsi tidak akan mudah, karena stadiumnya sudah membuat Negara ini sekarat bahkan sebagian masyarakat sudah sangat apatis akan upaya pembrantasannya. Mungkin ini sekedar alternative penanganan korupsi jika dilihat dari makna kata, penyebaran, dampak dan penanganannya disamakan dengan sampah. Sampah adalah merupakan material sisa yang tidak diinginkan setelah berakhirnya suatu proses.
Paradigma penangannyapun harus diubah total, koruptor bukan lagi sebagai objek hukum tapi diubah sebagai barang sisa yang harus dikelola menurut tata kelola sampah sehingga lebih mudah dipilah-pilah untuk mengurangi polusi lingkungan, perkembangan virus atau kuman yang dengan mudah menyebar tanpa terkendali. Ahli yang menangani para koruptor hendaknya bukan ahli hukum atau penegak hukum karena mereka telah terbukti tidak dapat melakukan tugasnya untuk membrantas korupsi. Untuk mengelola pembrantasan korupsi diserahkan saja pada ahli persampahan atau pemulung agar pola penangannya sesuai alur penanganan sampah.
Korupsi di Negara ini sudah merupakan onggokan berbagai jenis sampah menumpuk, membusuk, kotor dan bau menyengat yang sudah sangat membayakan kehidupan manusia lain selain para koruptor. Jenispun sangat beragam mulai dari sampah alam, sampah manusia (hasil pencernaan manusia), sampah rumahtangga, industri sampai limbah nuklir bercampur jadi satu berdampingan dengan kehidupan kita dan berserakan disetiap penjuru kemanapun kita melangkah. Agar tidak menimbulkan penyakit dan dapat berdampak pada kematian bangsa ini seluruh masyarakat harus bersama-sama membersihkannya.
Menempatkan para koruptor sebagai manusia yang tidak sepatutnya sangat wajar karena dampak dari perbuatan mereka sangat dahsyat merugikan kehidupan bangsa secara keseluruhan. Bahkan kehidupan ratusan juta rakyat lain dirugikan secara langsung akibat perbuatan para koruptor dan tidak seharusnya ada pembelaan terhadap mereka karena mereka hanya sampah bau, kotor dan penyebar berbagai penyakit mematikan.
Hukuman sosial dari masyarakat dengan cap (stempel) dan memperlakukan para koruptor sebagai sampah kehidupan mungkin lebih efektip menanggulangi dan melenyapkan para koruptor dari muka bumi ini.
Selasa, 05 April 2011
Minggu, 03 April 2011
DIALOG KENAPA
Tulisan dialog kenapa karya Gatot Nano Suyatno ketika membacanya sedikit membuat saya merinding dan sekaligus melihat suatu sisi kejujuran dari satu generasi yang sudah tidak merasa mampu lagi berbuat sesuatu untuk negeri tercinta. Disamping itu terlihat jelas kejelian membaca situasi yang terjadi dan memang sangat sulit disangkal bahwa itu merupakan realita yang menjadi derita ibu pertiwi yang sudah sarat beban akibat ulah para koruptor.
Silakan membaca dan menafsirkan ...semoga bermanfaat.
DIALOG KENAPA
oleh Gatot Nano Suyatno pada 02 Januari 2011 jam 9:12
Nano Suyatno
DIALOG KENAPA
ayah ; anakku maafkan generasi ayah
anak ; kenapa
ayah ; generasi ayah adalah barisan dan brigade pencuri negeri ini
( sepedih apapun aku harus berkata jujur padanya )
anak ; kenapa
ayah ; generasi koroptor penghisap darah rakyat
anak ; kenapa
ayah ; tolong simpan ini warisan kakekbuyutmu sebuah pusaka
tak teraba tak berbentuk tak berwujub bernama kejujuran
simpan jauh kedalam relung hatimu
anak ; kenapa
ayah ; ayah tidak ikuikutan merampok harta ibumu si pertiwi
hanya waktu yang ayah korupsi,
sebab ayahmu ini sering tidak masuk kantor tapi masuk kedalam keramain mencari sang sepi
anak ; kenapa
ayah ; hati tak lagi punya arti jika terhayut keramaian duniawi
anak ; kenapa
ayah ; duniawi hanyalah permainan fikiran kotor kita , kita tidak butuh apaapa sebab semua tersedia jika mata hati mampu membaca
anak ; kenapa
ayah ; surga neraka kita bawa setiap hari, sadri itu, jangan mencari surga atau neraka lagi yha
anak ; kenapa
ayah ; waktu terus beranjak meninggalkan pagi menghilang dijejak langkah sejarah, ayah tak kuat berteriak kebenaran, corong mulut para maling lebih besar anakku
anak ; kenapa
ayah ; dingeri ibumu bernama pertiwi kebohongan adalah reklame sarapan pagi penjabat negeri ini, makan siang telah terhidang aneka menu manipulasi ingkar janji makan malam sop rencana esok pagi rendang sakithati seporsi korupsi.
Anak ; kenapa
Ayah ; maaf jika ayah tak mengajarkanmu matematika kemunafikan, filsafat janji palsu, sejarah ingkar janji, ayah hanya mampu mengajarkan cinta kasih dan keikhlasan tanpa basabasi.
anak ; kenapa
ayah ; cintai ibumu sipertiwi, ayah takut ananda, ayah tirimu yang suka pamer dasi akan memperkosa dan menjualnya ke luarnegeri, ketengkulak sapi demokrasi, ketukang jahit liberalisme
anak ; kenapa
ayah ; cintai tiwul, papeda,pepes, umbi dan jagung, jangan produk instan yang setiap produknya mengandung sebutir peluru untuk saudaramu di Palestina.
Anak ; kenapa
Ayah ; tidak kenapa
Silakan membaca dan menafsirkan ...semoga bermanfaat.
DIALOG KENAPA
oleh Gatot Nano Suyatno pada 02 Januari 2011 jam 9:12
Nano Suyatno
DIALOG KENAPA
ayah ; anakku maafkan generasi ayah
anak ; kenapa
ayah ; generasi ayah adalah barisan dan brigade pencuri negeri ini
( sepedih apapun aku harus berkata jujur padanya )
anak ; kenapa
ayah ; generasi koroptor penghisap darah rakyat
anak ; kenapa
ayah ; tolong simpan ini warisan kakekbuyutmu sebuah pusaka
tak teraba tak berbentuk tak berwujub bernama kejujuran
simpan jauh kedalam relung hatimu
anak ; kenapa
ayah ; ayah tidak ikuikutan merampok harta ibumu si pertiwi
hanya waktu yang ayah korupsi,
sebab ayahmu ini sering tidak masuk kantor tapi masuk kedalam keramain mencari sang sepi
anak ; kenapa
ayah ; hati tak lagi punya arti jika terhayut keramaian duniawi
anak ; kenapa
ayah ; duniawi hanyalah permainan fikiran kotor kita , kita tidak butuh apaapa sebab semua tersedia jika mata hati mampu membaca
anak ; kenapa
ayah ; surga neraka kita bawa setiap hari, sadri itu, jangan mencari surga atau neraka lagi yha
anak ; kenapa
ayah ; waktu terus beranjak meninggalkan pagi menghilang dijejak langkah sejarah, ayah tak kuat berteriak kebenaran, corong mulut para maling lebih besar anakku
anak ; kenapa
ayah ; dingeri ibumu bernama pertiwi kebohongan adalah reklame sarapan pagi penjabat negeri ini, makan siang telah terhidang aneka menu manipulasi ingkar janji makan malam sop rencana esok pagi rendang sakithati seporsi korupsi.
Anak ; kenapa
Ayah ; maaf jika ayah tak mengajarkanmu matematika kemunafikan, filsafat janji palsu, sejarah ingkar janji, ayah hanya mampu mengajarkan cinta kasih dan keikhlasan tanpa basabasi.
anak ; kenapa
ayah ; cintai ibumu sipertiwi, ayah takut ananda, ayah tirimu yang suka pamer dasi akan memperkosa dan menjualnya ke luarnegeri, ketengkulak sapi demokrasi, ketukang jahit liberalisme
anak ; kenapa
ayah ; cintai tiwul, papeda,pepes, umbi dan jagung, jangan produk instan yang setiap produknya mengandung sebutir peluru untuk saudaramu di Palestina.
Anak ; kenapa
Ayah ; tidak kenapa
Rabu, 30 Maret 2011
KEANGGOTAAN APAKI
Sesuai dengan nama Aliansi PNS Anti korupsi yang sudah seharusnya memiliki visi dan misi serta tujuan yang jelas. Niat membentuk aliansi ini tentu disamping sebagai gerakan moral tentu memiliki visi, misi dan tujuan yang mulia. Melihat dari hari ke hari minat untuk bergabung dalam aliansi cukup besar dan semakin beragam, perlu difikirkan langkah melindungi dan mengarahkan aliansi kepada jalan yang seharusnya ( on right track ).
Perkembangan semakin banyaknya orang yang bergabung dengan Aliansi yang notabenenya berasal dari Non PNS perlu pemikiran untuk membatasi atau membuat wadah yang anggotanya bisa dikontrol hanya dari kalangan PNS sesuai dengan format pembentukannya.
Sebagai simpatisan tentu saja tidak ada masalah, selama tidak memberi pengaruh yang akan dapat mengubah visi, misi dan tujuan. Mekanisme kontrol perlu diterapkan agar aliansi ini dapat berkembang dan tidak dapat dimanfaatkan untuk tujuan tertentu.
Seperti diketahui bersama "korupsi" sudah sangat mengakar dalam setiap sendi-sendi kehidupan dan memilki kekuatan yang sangat dasyat sehingga kalau ada yang anti tentu akan mendapat perlawanan dari para pelaku atau yang pro bahkan orang-orang yang merasa diuntungkan dengan kondisi yang serba korup.
PNS yang bergabung dalam Aliansi PNS Anti Korupsi hendaknya menyadari semua langkah dan sikap yang diambil sebagai Anti Korupsi akan memiliki konsekuensi dalam berbagai hal seperti rasa tidak senang atau permusuhan dari teman-teman yang diuntungkan atau masih melakukan perbuatan korupsi, atasan bahkan mohon maaf "teman-teman PNS pro prilaku korupsi".
Dalam satu instansi atau unit kerja biasanya sudah saling mengenal dan mengetahui fungsi dan kedudukan masing-masing. Keseharian bekerjasama, saling sapa, bahkan sudah terjalin rasa persaudaraan sangat sulit menyatakan bahwa kita tidak menyukai perbuatan dari teman sejawat. Padahal seharusnya sebagai yang bekerja dalam satu ruangan atau satu instansi sekian lama bahkan sampai puluhan tahun sebenarnya ditiap instansi itu sudah saling mengenal dan mengetahui tindakan dan perbuatan satu sama lain.
Seandainya terjadi korupsipun biasanya semua mengetahui atau paling tidak bisa menebak siapa pelaku dan modusnya karena setiap orang telah memiliki fungsi dan tanggung jawab sendiri-sendiri. Jadi pilihan sesungguhnya ada pada kita, apakah kita mau berbuat, membiarkan perbuatan itu dilakukan oleh teman kita, kita bagian dari perbuatan itu, atau kita hanya diam saja seolah tidak pernah terjadi apa-apa.
Terkait dengan keanggotaan Aliansi PNS Anti Korupsi sudah seharusnya semuanya harus PNS, mohon maaf ..... selain PNS silahkan memberikan dukungan, masukan dan saran-sarannya tapi tetap bukan bagian dari Aliansi sebagai kumpulan para PNS yang menyatakan diri sebagai Anti Korupsi.
Perkembangan semakin banyaknya orang yang bergabung dengan Aliansi yang notabenenya berasal dari Non PNS perlu pemikiran untuk membatasi atau membuat wadah yang anggotanya bisa dikontrol hanya dari kalangan PNS sesuai dengan format pembentukannya.
Sebagai simpatisan tentu saja tidak ada masalah, selama tidak memberi pengaruh yang akan dapat mengubah visi, misi dan tujuan. Mekanisme kontrol perlu diterapkan agar aliansi ini dapat berkembang dan tidak dapat dimanfaatkan untuk tujuan tertentu.
Seperti diketahui bersama "korupsi" sudah sangat mengakar dalam setiap sendi-sendi kehidupan dan memilki kekuatan yang sangat dasyat sehingga kalau ada yang anti tentu akan mendapat perlawanan dari para pelaku atau yang pro bahkan orang-orang yang merasa diuntungkan dengan kondisi yang serba korup.
PNS yang bergabung dalam Aliansi PNS Anti Korupsi hendaknya menyadari semua langkah dan sikap yang diambil sebagai Anti Korupsi akan memiliki konsekuensi dalam berbagai hal seperti rasa tidak senang atau permusuhan dari teman-teman yang diuntungkan atau masih melakukan perbuatan korupsi, atasan bahkan mohon maaf "teman-teman PNS pro prilaku korupsi".
Dalam satu instansi atau unit kerja biasanya sudah saling mengenal dan mengetahui fungsi dan kedudukan masing-masing. Keseharian bekerjasama, saling sapa, bahkan sudah terjalin rasa persaudaraan sangat sulit menyatakan bahwa kita tidak menyukai perbuatan dari teman sejawat. Padahal seharusnya sebagai yang bekerja dalam satu ruangan atau satu instansi sekian lama bahkan sampai puluhan tahun sebenarnya ditiap instansi itu sudah saling mengenal dan mengetahui tindakan dan perbuatan satu sama lain.
Seandainya terjadi korupsipun biasanya semua mengetahui atau paling tidak bisa menebak siapa pelaku dan modusnya karena setiap orang telah memiliki fungsi dan tanggung jawab sendiri-sendiri. Jadi pilihan sesungguhnya ada pada kita, apakah kita mau berbuat, membiarkan perbuatan itu dilakukan oleh teman kita, kita bagian dari perbuatan itu, atau kita hanya diam saja seolah tidak pernah terjadi apa-apa.
Terkait dengan keanggotaan Aliansi PNS Anti Korupsi sudah seharusnya semuanya harus PNS, mohon maaf ..... selain PNS silahkan memberikan dukungan, masukan dan saran-sarannya tapi tetap bukan bagian dari Aliansi sebagai kumpulan para PNS yang menyatakan diri sebagai Anti Korupsi.
Langganan:
Postingan (Atom)